Senin, 16 Oktober 2017

The Adversity-cerita pendek

The Adversity

D
i sebuah istana kerajaan tinggal seorang putri bernama Salvina, ia hidup bersama kedua orang tuanya. Putri Salvina berbeda dengan putri lainnya yang banyak menghabiskan waktunya hanya didalam istana, ia sangat dekat dengan orang orang diluar istana bahkan ia memiliki sahabat dari sebuah desa yang ada di dekat daerah perbatasan antara hutan dan daerah istana kerajaan.
Pada suatu hari putri Salvina sedang berjalan jalan di taman bunga yang letak nya tidak jauh dari istana kerajaan. Saat sang putri yang sedang melihat bunga bunga tiba tiba ia melihat ada seorang wanita tua yang terlihat sedang kebingunan, putri pun menghampiri wanit tua tersebut “permisi ada bisa saya bantu nek?” tanya sang putri dengan ramah “oh nak.. tubuhku sudah renta, bisakah kau membawa keranjang buah ini?” jelas wanita tua itu “baiklah nek antar aku ke rumah anda” dengan senang hati sang putri mengantarkan wanita tua itu. Setelah kurang lebih satu sengah jam berjalan akhirnya sampailah di rumah wanita tua, sang putri merasakan ada sesuatu aura aneh disekitarnya. “terimakasih banyak nak telah mengantarkanku, apakah kau mau mampir dahulu?” tawar si wanita tua “oh tidak perlu repot repot nek, aku harus pulang” sang putri berbalik dan pulang, namun saat ia sudah berjalan sekitar 3 meter dari rumah wanita tua dia menengok kebelakang dan ia tidak melihat rumah wanita tua itu. Sang putri pun kebingungan, ia berpikir bahwa ia sudah dibohongi oleh nenek sihir yang berpura pura baik. Sang putri menjadi ketakutan, ia berjalan berputar-putar mengitari hutan. Ia jadi merasa cemas dan takut. Dia sampai berpikir mungkin tak akan kembali ke istana makan dedaunan dan buah-buah aneh, dikejar raja hutan, najunya terkoyak-koyak, dan berakhir dimakan binatang buas. Ia tak ingin berakhir seperti itu. Yang ia inginkan, di istana, makan enak, merawat bunga setiap pagi dan sore, dan hidup bahagia bersama pangeran tampan dari negeri sebrang.
Sudah 5 jam ia berjalan hingga dia lemah dan tergeletak di luasnya rerumputan dan pepohonan yang lebat, menatap  bintang-bintang yang bertaburan. Ia jadi berpikir mungkin khayalannya tadi bisa jadi kenyataan. Kemudian imajinasinya hancur oleh suara auman serigala. Sang putri terduduk, menengok kanan-kiri mencari sumber suara. Ia merinding. Bersamaan dengan auman tadi, suara burung hantu seakan menyahuti serigala. Ia bangkit lalu tanpa sadar ia berlari. Berlari ke sembarang arah, melewati pohon-pohon tinggi yang seakan menjadi monster di kegelapan. Sepatu heels nya sudah terlempar entah kemana, gaunnya sudah kotor dan sobek tergores dan tersangkut ranting, mahkotanya sudah hilang entah kemana, rambutnya sudah seperti kusut dan acak-acakkan. Ia tak peduli, yang terpenting ia pergi dari tempat itu, mencari tempat berteduh yang sedikit nyaman.
-//-
            Sang putri terbangun, badannya terasa sakit dimana-mana. Tadi malam, ia tertidur di sebuah gua, beruntung gua itu kosong dan tak ada hewan buasnya. Kalau ada, pasti cerita ini berakhir.
            Ia bangkit, menepuk-nepuk gaunnya yang tak tahu sudah sepeerti apa bentuknya. Sekarang, ia merasa lapar dan haus. Sedari kemarin, ia sama sekali tak mengisi perutnya.
            Sang putri berjalan keluar, cuaca hari ini mendung. Ini benar-benar membuat putri hampir putus asa. Walau begitu ia harus tetap hidup, entah apa yang terjadi nanti, ia harus bisa bertahan hidup.
            Lalu sang putri berjalan mencari sesuatu yang bisa ia makan. Menatap pohon-pohon yang menjulang tinggi, dan menemukan sebuah pohon, kecil, tetapi memiliki buah. Tapi masalahnya, hanya ada satu buah yang tersisa. Tak berpikir apapun, ia langsung mengambil buah itu dan memakannya. Saking laparnya, ia memakan dengan cepat sampai tersedak. Sang putri berlari mencari sumber air.
            Tak jauh dari tempatnya berlari, ia mendengar suara percikan air. Seakan mendengar suara surga, ia menuju sumber suara. Ternyata benar, ada subuah sungai jernih. Ia langsung mengambil daun didekatnya untuk meminum air tersebut. Tak berselang lama, rintik air dari langit turun ke bumi. Ia yang memiliki niat mandi pupus sudah harapannya. ‘Ini sama saja dengan mandi,’  pikirnya.
-//-
            Sementara di kerajaan, sang raja sudah mengutus para prajurit untuk mencari putri. Berdasarkan penduduk yang melihat putri, ia berjalan ke arah hutan bersama dengan nenek tua. Raja sangat takut, ia tak ingin kehilangan lagi.
-//-
            Disamping raja yang takut, putri sedang menikmati hujan yang cukup deras di tengah hutan sekaligus membersihkan tubuhnya. Hujan telah reda ia bingung apa yang  harus ia lakukan setelah ini, akhirnya ia memutuskan untuk mencari jalan keluar dari hutan ini. Baru satu langkah ia berjalan ia ingat bahwa ia masih lapar dan masih ingin mencari makanan agar ia memiliki tenaga untuk berlari keluar dari hutan lebat ini.
            Sebelum itu ia memutuskan untuk merobek gaunnya hingga sebatas lutut, agar bisa bergrak dengan bebas. Ia pun berjalan jalan mencari makanan, tetapi sudah sekitar 2 jam ia berputar-putar tapi tak menemukan apapun. Beruntung sebelumnya ia sudah membawa minuman dalam plastik yang ia temukan sebagai cadangan. Dan sekarang minuman itu tersisa sedikit, ia jadi lesu. Entah sampai kapan ia akan bertahan begini terus. Rasanya, khayalannya akan menjadi kenyataan.
            Sang putri terus berjalan walau sudah tak ada semangat lagi. Sampai ia bertemu seorang pria yang memakai pakaian kerajaan, semangatnya bangkit. Ia berlari menuju pria tersebut. Ia yakin, ia akan mendapat bantuan darinya. Saat berlari, ia tersandung batu dan tersungkur ke bawah. Lututnya terluka, ia meringis. Ia berteriak pada sang pria, tetapi sang pria tak mendengar teriakannya karena jaraknya masih agak jauh. Sampai akhirnya putri kehilangan kesadaran ditengah kekhawatiran.
-//-
            Sang putri terbangun, ia berada di kasur empuk yang sangat ia kenali rasanya. ‘Ini kamarnya’ simpulnya dalam hati. Ia sangat senang dapat kembali ke kerajaan.
            Suara pintu terbuka mengalihkan pikirannya, ia melihat sang pria yang ia temui di hutan.
“Kau sudah sadar?’ kata sang pria.
“Ah, iya. Apa kau yang menolongku di hutan?”
“Ya. Saat itu aku sedang berjalan-jalan mencari hewan untuk dimakan sekaligus berlatih memanah,” jelasnya.
“Aku sangat berterima kasih akan hal itu,” kata sang putri dengan tulus.
Saat mereka sedang beradu tatap Raja datang menghancurkan segalanya dengan sebuah dehaman. Tatapan sang putri dan sang pria langsung teralihkan.
“Salvina, kau masih sakit istirahatlah dulu, oh ya kau, ikut denganku ke ruang utama kerajaan” kata sang Raja, sang putri mengangguk dan sang pria mengikuti raja ke ruang utama kerajaan.
 Di ruang utama...
“Siapa namamu?”
“Nama saya Pangeran Antonio Charles Richard dari negeri Rinai Hujan. Saya anak dari Raja Charles,” sambil membungkukkan badan, memberi salam.
“oh ternyata kau anak dari raja Charles, selamat datang di negeri Seribu Bintang. Tapi kenapa kau bisa menemukan putri?” tanya raja.
“kebetulan saya sedang berburu hewan untuk makanan dikerajaan sekaligus berlatih panahan dan saat diperjalanan pulang saya menemukan putri tergeletak di tanah” jelas pangeran.
“Wah, kebetulan yang sangat memberuntungkan. Aku ucapkan banyak terima kasih kepadamu. Apa yang kau mau sebagai imbalan?”
“Saya ingin menikahi sang putri,” tegas sang pangeran.
Sang raja agak sedikit terkejut dan berpikir sejenak.
“pangeran kau sdah menyelamat sang putri yang hampir sekarat, maka dari itu saya sangat berterimakasih dan jika itu yang kau inginkan maka siapkanlah semuanya di esok hari”
-//-
Saat pagi menjelang sang putri sedang bersiap-siap. Ia sangat senang menikahi sang pangeran. Angan-angannya menjadi kenyataan setelah kesengsaraan. Ia sangat bersyukur akan hal itu. Hari ini ia memakai gaun berwarna putih pink sepanjang 2 meter dengan berbagai hiasan, dan bagian kepala ia dipakaikan mahkota baru yang tak kalah cantik dengan yang hilang, sepatunya berwarna putih setinggi 10 cm. Ini adalah hari yang membahagiakan.
Karena mungkin tak terbiasa memakai sepatu heels setinggi itu, ia terjatuh dan tak sadarkan diri.
-//-
Mataku terbuka perlahan. Yang bertama dilihat adalah sang ibu yang sudah tua. Itu ibuku. Aku membuka mata secara keseluruhan. Ini kamarnya. Benar-benar kamarnya. Aku bukan seorang putri cantik seperti mimpiku. Memang, aku selalu bermimpi menjadi putri cantik yang hidup damai. Tapi entah kenapa setelah mimpi mengerikan itu, aku jadi tak ingin menjadi putri.
Putri itu menakutkan. Ia banyak musuhnya. Sama seperti dalam mimpiku. Seperti nenek tua yang meninggalkannya, seperti takdir dunia yang membuatnya tak berdaya. Aku hanyalah seorang anak kecil berusia 5 tahun. Aku juga tak tahu akan mendapatkan mimpi itu. Aku jadi membayangkan diriku seperti itu. Itu sangat mengerikan. Mungkin mulai sekarang aku akan menjadi lebih baik. Tak merengek pada Ibu untuk melewati kerajaan setelah belanja dari pasar. Tak meminta Ibu membelikan gaun-gaun mewah yang ada di toko. Aku akan membantu Ibu mencukupi kebutuhan hidup, dan juga meneruskan masa depan.


~TAMAT~



By: Sasqia Ardelia F.
      Silvy Aqila M.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar