The Adversity
|
D
|
i
sebuah istana kerajaan tinggal seorang putri bernama Salvina, ia hidup bersama
kedua orang tuanya. Putri Salvina berbeda dengan putri lainnya yang banyak
menghabiskan waktunya hanya didalam istana, ia sangat dekat dengan orang orang
diluar istana bahkan ia memiliki sahabat dari sebuah desa yang ada di dekat
daerah perbatasan antara hutan dan daerah istana kerajaan.
Pada suatu hari putri Salvina sedang berjalan jalan di
taman bunga yang letak nya tidak jauh dari istana kerajaan. Saat sang putri yang
sedang melihat bunga bunga tiba tiba ia melihat ada seorang wanita tua yang
terlihat sedang kebingunan, putri pun menghampiri wanit tua tersebut “permisi
ada bisa saya bantu nek?” tanya sang putri dengan ramah “oh nak.. tubuhku sudah
renta, bisakah kau membawa keranjang buah ini?” jelas wanita tua itu “baiklah
nek antar aku ke rumah anda” dengan senang hati sang putri mengantarkan wanita
tua itu. Setelah kurang lebih satu sengah jam berjalan akhirnya sampailah di
rumah wanita tua, sang putri merasakan ada sesuatu aura aneh disekitarnya.
“terimakasih banyak nak telah mengantarkanku, apakah kau mau mampir dahulu?”
tawar si wanita tua “oh tidak perlu repot repot nek, aku harus pulang” sang
putri berbalik dan pulang, namun saat ia sudah berjalan sekitar 3 meter dari
rumah wanita tua dia menengok kebelakang dan ia tidak melihat rumah wanita tua
itu. Sang putri pun kebingungan, ia berpikir bahwa ia sudah dibohongi oleh
nenek sihir yang berpura pura baik. Sang putri menjadi ketakutan, ia berjalan
berputar-putar mengitari hutan. Ia jadi merasa cemas dan takut. Dia sampai
berpikir mungkin tak akan kembali ke istana makan dedaunan dan buah-buah aneh,
dikejar raja hutan, najunya terkoyak-koyak, dan berakhir dimakan binatang buas.
Ia tak ingin berakhir seperti itu. Yang ia inginkan, di istana, makan enak,
merawat bunga setiap pagi dan sore, dan hidup bahagia bersama pangeran tampan
dari negeri sebrang.
Sudah 5 jam ia berjalan hingga dia lemah dan tergeletak
di luasnya rerumputan dan pepohonan yang lebat, menatap bintang-bintang yang bertaburan. Ia jadi
berpikir mungkin khayalannya tadi bisa jadi kenyataan. Kemudian imajinasinya
hancur oleh suara auman serigala. Sang putri terduduk, menengok kanan-kiri
mencari sumber suara. Ia merinding. Bersamaan dengan auman tadi, suara burung
hantu seakan menyahuti serigala. Ia bangkit lalu tanpa sadar ia berlari.
Berlari ke sembarang arah, melewati pohon-pohon tinggi yang seakan menjadi
monster di kegelapan. Sepatu heels nya sudah terlempar entah kemana,
gaunnya sudah kotor dan sobek tergores dan tersangkut ranting, mahkotanya sudah
hilang entah kemana, rambutnya sudah seperti kusut dan acak-acakkan. Ia tak
peduli, yang terpenting ia pergi dari tempat itu, mencari tempat berteduh yang sedikit
nyaman.
-//-
Sang putri terbangun, badannya
terasa sakit dimana-mana. Tadi malam, ia tertidur di sebuah gua, beruntung gua
itu kosong dan tak ada hewan buasnya. Kalau ada, pasti cerita ini berakhir.
Ia bangkit, menepuk-nepuk gaunnya
yang tak tahu sudah sepeerti apa bentuknya. Sekarang, ia merasa lapar dan haus.
Sedari kemarin, ia sama sekali tak mengisi perutnya.
Sang putri berjalan keluar, cuaca
hari ini mendung. Ini benar-benar membuat putri hampir putus asa. Walau begitu
ia harus tetap hidup, entah apa yang terjadi nanti, ia harus bisa bertahan
hidup.
Lalu sang putri berjalan mencari
sesuatu yang bisa ia makan. Menatap pohon-pohon yang menjulang tinggi, dan
menemukan sebuah pohon, kecil, tetapi memiliki buah. Tapi masalahnya, hanya ada
satu buah yang tersisa. Tak berpikir apapun, ia langsung mengambil buah itu dan
memakannya. Saking laparnya, ia memakan dengan cepat sampai tersedak. Sang putri
berlari mencari sumber air.
Tak jauh dari tempatnya berlari, ia
mendengar suara percikan air. Seakan mendengar suara surga, ia menuju sumber
suara. Ternyata benar, ada subuah sungai jernih. Ia langsung mengambil daun
didekatnya untuk meminum air tersebut. Tak berselang lama, rintik air dari
langit turun ke bumi. Ia yang memiliki niat mandi pupus sudah harapannya. ‘Ini
sama saja dengan mandi,’ pikirnya.
-//-
Sementara di kerajaan, sang raja
sudah mengutus para prajurit untuk mencari putri. Berdasarkan penduduk yang
melihat putri, ia berjalan ke arah hutan bersama dengan nenek tua. Raja sangat
takut, ia tak ingin kehilangan lagi.
-//-
Disamping raja yang takut, putri
sedang menikmati hujan yang cukup deras di tengah hutan sekaligus membersihkan
tubuhnya. Hujan telah reda ia bingung apa yang
harus ia lakukan setelah ini, akhirnya ia memutuskan untuk mencari jalan
keluar dari hutan ini. Baru satu langkah ia berjalan ia ingat bahwa ia masih
lapar dan masih ingin mencari makanan agar ia memiliki tenaga untuk berlari
keluar dari hutan lebat ini.
Sebelum itu ia memutuskan untuk
merobek gaunnya hingga sebatas lutut, agar bisa bergrak dengan bebas. Ia pun
berjalan jalan mencari makanan, tetapi sudah sekitar 2 jam ia berputar-putar
tapi tak menemukan apapun. Beruntung sebelumnya ia sudah membawa minuman dalam
plastik yang ia temukan sebagai cadangan. Dan sekarang minuman itu tersisa
sedikit, ia jadi lesu. Entah sampai kapan ia akan bertahan begini terus.
Rasanya, khayalannya akan menjadi kenyataan.
Sang putri terus berjalan walau
sudah tak ada semangat lagi. Sampai ia bertemu seorang pria yang memakai
pakaian kerajaan, semangatnya bangkit. Ia berlari menuju pria tersebut. Ia
yakin, ia akan mendapat bantuan darinya. Saat berlari, ia tersandung batu dan
tersungkur ke bawah. Lututnya terluka, ia meringis. Ia berteriak pada sang
pria, tetapi sang pria tak mendengar teriakannya karena jaraknya masih agak jauh.
Sampai akhirnya putri kehilangan kesadaran ditengah kekhawatiran.
-//-
Sang putri terbangun, ia berada di
kasur empuk yang sangat ia kenali rasanya. ‘Ini kamarnya’ simpulnya
dalam hati. Ia sangat senang dapat kembali ke kerajaan.
Suara pintu terbuka mengalihkan
pikirannya, ia melihat sang pria yang ia temui di hutan.
“Kau
sudah sadar?’ kata sang pria.
“Ah,
iya. Apa kau yang menolongku di hutan?”
“Ya.
Saat itu aku sedang berjalan-jalan mencari hewan untuk dimakan sekaligus
berlatih memanah,” jelasnya.
“Aku
sangat berterima kasih akan hal itu,” kata sang putri dengan tulus.
Saat mereka sedang beradu tatap Raja datang menghancurkan
segalanya dengan sebuah dehaman. Tatapan sang putri dan sang pria langsung
teralihkan.
“Salvina,
kau masih sakit istirahatlah dulu, oh ya kau, ikut denganku ke ruang utama
kerajaan” kata sang Raja, sang putri mengangguk dan sang pria mengikuti raja ke
ruang utama kerajaan.
Di ruang utama...
“Siapa
namamu?”
“Nama
saya Pangeran Antonio Charles Richard dari negeri Rinai Hujan. Saya anak dari
Raja Charles,” sambil membungkukkan badan, memberi salam.
“oh
ternyata kau anak dari raja Charles, selamat datang di negeri Seribu Bintang.
Tapi kenapa kau bisa menemukan putri?” tanya raja.
“kebetulan
saya sedang berburu hewan untuk makanan dikerajaan sekaligus berlatih panahan
dan saat diperjalanan pulang saya menemukan putri tergeletak di tanah” jelas
pangeran.
“Wah,
kebetulan yang sangat memberuntungkan. Aku ucapkan banyak terima kasih
kepadamu. Apa yang kau mau sebagai imbalan?”
“Saya
ingin menikahi sang putri,” tegas sang pangeran.
Sang
raja agak sedikit terkejut dan berpikir sejenak.
“pangeran
kau sdah menyelamat sang putri yang hampir sekarat, maka dari itu saya sangat
berterimakasih dan jika itu yang kau inginkan maka siapkanlah semuanya di esok
hari”
-//-
Saat pagi menjelang sang putri sedang bersiap-siap. Ia
sangat senang menikahi sang pangeran. Angan-angannya menjadi kenyataan setelah
kesengsaraan. Ia sangat bersyukur akan hal itu. Hari ini ia memakai gaun berwarna
putih pink sepanjang 2 meter dengan berbagai hiasan, dan bagian kepala ia
dipakaikan mahkota baru yang tak kalah cantik dengan yang hilang, sepatunya
berwarna putih setinggi 10 cm. Ini adalah hari yang membahagiakan.
Karena mungkin tak terbiasa memakai sepatu heels setinggi
itu, ia terjatuh dan tak sadarkan diri.
-//-
Mataku terbuka perlahan. Yang bertama dilihat adalah sang
ibu yang sudah tua. Itu ibuku. Aku membuka mata secara keseluruhan. Ini
kamarnya. Benar-benar kamarnya. Aku bukan seorang putri cantik seperti mimpiku.
Memang, aku selalu bermimpi menjadi putri cantik yang hidup damai. Tapi entah
kenapa setelah mimpi mengerikan itu, aku jadi tak ingin menjadi putri.
Putri itu menakutkan. Ia banyak musuhnya. Sama seperti
dalam mimpiku. Seperti nenek tua yang meninggalkannya, seperti takdir dunia
yang membuatnya tak berdaya. Aku hanyalah seorang anak kecil berusia 5 tahun.
Aku juga tak tahu akan mendapatkan mimpi itu. Aku jadi membayangkan diriku
seperti itu. Itu sangat mengerikan. Mungkin mulai sekarang aku akan menjadi
lebih baik. Tak merengek pada Ibu untuk melewati kerajaan setelah belanja dari
pasar. Tak meminta Ibu membelikan gaun-gaun mewah yang ada di toko. Aku akan
membantu Ibu mencukupi kebutuhan hidup, dan juga meneruskan masa depan.
~TAMAT~
By: Sasqia Ardelia F.
Silvy Aqila M.